ABSTRAK
Pembelajaran yang berhasil ditunjukkan
pada tingkat kemampuan siswa terhadap pembelajaran tematik. Dari hasil
pengamatan penulis sebagai guru kelas pada proses belajar mengajar dan hasil
yang dicapai siswa pada Tema Kegiatan sehari-hari pada pembelajaran terpadu
lintas bidang studi menunjukkan rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap
tema tersebut hal ini terlihat ketika penulis tidak menggunakan kartu tematik
di dalam pembelajaran.siswa cendrung kurang termotivasi di dalam pembelajaran.
Hal ini terlihat hanya 16 siswa dari 37 orang siswa mencapai tingkat penguasaan
materi 43,24 % keatas, tetapi setelah peneliti menggunakan kartu tematik
sebagai media pembelajaran tematik khususnya tema Kegiatan Sehari-hari ,dari
hasil ulangan ternyata yang menguasai materi menjadi meningkat, yaitu 27 orang
siswa dari 37 siswa mencapai tingkat kemampuan materi 72,97% .
Menurut Oemar Hamalik ( 1995 : 159 )
”hasil belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran ( pengumpulan data dan
informasi ), pengolahan, penafsiran, dan pertimbangan untuk membuat keputusan
tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan
kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan yang telah diterapkan. Hasil belajar
menunjukkan pada prestasi belajar, sedangkan pretasi belajar itu merupakan
indikator adanya derajat perubahan.
Penelitian ini
bertujuan untuk : (1) untuk mendeskripsikan dan mengetahui penggunaan kartu “Tematik”
dalam meningkatkan keaktifan belajar dalam pembelajaranTematik, (2) mengetahui
efektivitas penggunaan kartu “Tematik” dalam meningkatkan hasil belajar Tematik
dengan tema kegiatan sehari-hari siswa kelas II SDN 001 Tanjungpinang Barat
Kecamatan Tanjungpinang
Barat.
Metode penelitian ini, digunakan pendekatan penelitian tindakan kelas.
Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SDN 001 Tanjungpinang
Barat Kecamatan Tanjungpinang Barat yang
berjumlah 37 siswa. Metode pengumpulan data adalah observasi, catatan lapangan,
dan tes. Data dianalisis secara kualitatif dengan indikator keberhasilan
membandingkan tingkat keberhasilam tindakan pada siklus I dan II dengan
refleksi awal timbulnya permasalahan sebelum diberikan tindakan, dengan
kriteria hasil belajar siswa baik, jika memperoleh hasil belajar dengan nilai ³ 70.
Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran dengan penggunaan kartu “Tematik”
sebagai media pembelajaran Tematik dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa.
Hasil belajar dalam siklus I, siswa yang berhasil dalam pembelajaran dengan memperoleh nilai ³ 70 adalah
27 orang (72,97%) dan siswa yang tidak berhasil atau mengalami kesulitan
belajar dengan nilai < 70 adalah 10 orang (27,02%). Siklus II, siswa yang
berhasil dalam pembelajaran dengan
memperoleh nilai ³ 70 adalah 32 orang (84,49%) dan siswa yang tidak
berhasil atau mengalami kesulitan belajar dengan nilai < 70 adalah 5 orang 13,51%).
Dapat disimpulkan bahwa penggunaan Kartu ”Tematik” sebagai media pembelajaran Tematik terpadu
lintas bidang studi terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas
rendah khususnya kelas II.
Setelah diadakan perbaikan pembelajaran
dengan menggunakan media kartu tematik hasil belajar siswa meningkat. Oleh
karena itu maka dapat disimpulkan bahwa :
1.
Penggunaan
metode yang sesuai dan tepat dengan materi yang disajikan dapat meningkatkan
hasil belajar siswa.
2.
Penggunaan media
kartu tematik dalam belajar adalah sangat efektif dan baik untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran.
Learning is successfully demonstrated at the level of students towards subjects capabilities. From
observations of the writer as a classroom teacher in
the learning process and the results achieved by students on the theme of Their Self
in integrated learning across subject areas showed
low levels of student mastery of the themes
this looks when the teacher does not use the thematic card in
the teaching process tends less motivated
in the teaching
and learning process. it is visible only 16 students from 37
students to achieve mastery of the material level of 43.24% and above, but after
the researchers used the card
as a medium of learning by particularly thematic theme is their self. of the test results
turned out to master
the material to be increased, ie 27
students of 37 students attained 72.97% of
material capabilities.
According Oemar Hamalik (1995:
159) "is a whole learning outcomes measurement activities (data collection
and information), processing, interpretation, and discretion to make decisions
about the level of learning outcomes achieved by students after learning
activities in an effort to achieve the objectives that have been applied . The results of study showed on
learning achievement, while the interpretation of learning it is an indicator
of the degree of change.
This Research aims to: (1) describe and know the use of "Thematic cards” in
enhancing learning activeness in integrated
learning, (2) examine the effectiveness of the use of "Thematic card" in improving learning outcomes with the theme of self Thematic grade II SDN 001 Tanjungpinang Barat, subdistrict Tanjungpinang Barat.
This research method, used class action research
approach. Subjects in this study
were all students in
grade II SDN 001 in Tanjungpinang Barat, Tanjungpinang City, amounting to 37 students. Methods of
data collection are observation, field notes, and tests. Data were analyzed qualitatively by comparing the level of success
indicators successfully action on the cycle I and II with the early onset of the problem of reflection before action is given, with good students
learning outcomes, if the study results to the value of ³ 70.
The results suggest learning to use the "Thematic card" Thematic learning as a medium in improving student learning activity. Learning
outcomes in the cycle I, students
who succeed in learning to obtain the
value of ³ 70 is 27 people (72.97%) and students who did not work or have
difficulty learning to value <70 is 10 people (27.02%). Cycle II, students who succeed in learning to obtain the
value of ³ 70 is 32 people (84.49%) and students who did not work or have
difficulty learning to value <70 is 5 people ( 13.51%).
It can be concluded that the use of the "Thematic
Card" as
an integrated cross-media learning subjects proven to improve student learning outcomes in particular class After the improvement of learning held by using a media card thematic increased student learning outcomes. Therefore it can be concluded that:
1. Use of appropriate methods and precise with the material presented can be improved.
2. The use of media in learning thematic card is effective and good to improve the quality of learning.
1. Use of appropriate methods and precise with the material presented can be improved.
2. The use of media in learning thematic card is effective and good to improve the quality of learning.
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembelajaran di kelas rendah Pada umumnya
dikemas menggunakan model pembelajaran terpadu dengan menggunakan pendekatan
tematik dan mengacu pada Standar Isi Permendiknas No.22 Tahun 2007.
Pembelajaran terpadu yang diterapkan di kelas rendah adalah pembelajaran
terpadu lintas bidang studi menggunakan model “Tematik ( lintas bidang studi
)”. Penetapan pendekatan tematik dalam pembelajaran di SD dikarenakan
perkembangan peserta didik pada kelas rendah sekolah dasar, pada umumnya berada
pada tingkat perkembangan yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu
keutuhan (holistik) serta baru mampu memahami hubungan antara konsep secara
sederhana (Diknas, 2006). Pembelajaran subject
matter (berdasarkan materi Pelajaran) menyebabkan kurang mengembangkan anak
untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik
mengaitkan konsep dengan kehidupan nyata
mereka sehari-hari (Mulyasa, 2004).
Implementasi
pembelajaran model Tematik di
sekolah-sekolah dasar hingga saat ini masih mengalami kendala. Menurut Puskur
(2007), pelaksanaan pembelajaran tematik di kelas I-III belum berjalan sesuai
dengan ketentuan Standar Isi, karena guru-guru mengalami kesulitan dalam
menyusun silabus sesuai dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar
(KD) yang ditetapkan dalam Standar Isi. Selain itu guru-guru mengalami
kesulitan dalam mengalokasikan waktu yang harus dipergunakan dalam seminggu,
karena tidak ada ketentuan alokasi waktu untuk setiap tema yang ditetapkan.
Hal ini disebabkan guru-guru
belum memahami esensi dan praktek pembelajaran tematik. Banyak guru yang belum
mendapat pelatihan yang cukup memadai dalam pelaksanaan pembelajaran tematik
(Puskur, 2007). Padahal keberhasilan pembelajaran tematik ditentukan pula oleh
kemampuan dan pemahaman guru mengenai pembelajaran tematik, disamping latar
belakang pendidikan guru juga memberikan pengaruh yang cukup berarti. Hal ini
menyebabkan pelaksanaan pembelajaran tematik belum bisa dilaksanakan secara
utuh (Hesty, 2008).
Kendala - kendala yang
muncul dalam implementasi pembelajaran tematik ini terjadi pula pada SDN 001
Tanjungpinang Barat. Secara administratif guru kelas II telah mampu menyusun
model pembelajaran tematik sejak tahun pelajaran 2008/2009, namun mengalami
kesulitan untuk mengimplementasikan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil refleksi, ditemukan
sejumlah fakta bahwa tidak semua model pembelajaran tematik yang disusun oleh
guru kelas II berjalan sesuai dengan rencana.
Upaya untuk memperbaiki
proses pembelajaran pun dilakukan oleh guru kelas II untuk menghindari
kegagalan pembelajaran tematik pada awal tahun pelajaran 2013/2014, dengan
memilih pendekatan subject matter.
Pertimbangan guru kelas II mengajarkan pembelajaran tematik dengan pendekatan subject matter antara lain adalah faktor
ketersediaan buku teks di sekolah yang
dikemas dalam bentuk buku teks ajar tematik belum memadai. Strategi guru
kelas II mengemas mata pelajaran tematik dengan pendekatan subject matter ternyata menimbulkan masalah yang baru karena kurangnya
perencaan yang matang dalam memperbaiki proses pembelajaran. Hal ini
dikarenakan proses pembelajaran yang diterapkan mengarah pada pembelajaran
konvensional (teacher centered) sehingga
peran guru lebih dominan dibandingkan peserta didik. Metode ceramah dan penugasan LKS telah menjadi metode favorit
guru sepanjang tahun pelajaran 2008/2009 hingga akhir semester 1 tahun
pelajaran 2013/2014. Hal tersebut mengakibatkan pembelajaran Tematik tidak
dilaksanakan sesuai dengan hakikatnya bahwa pembelajaranTematik sebaiknya
dilakukan secara terpadu dengan inkuiri ilmiah (Permendiknas No.22 Tahun 2007).
Kelemahan penerapan
strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru dapat memiliki dampak pada
hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya untuk
memperbaiki proses pembelajaran sehingga pembelajaran Tematik dapat
dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Salah satu upaya yang dapat
dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas II SDN 001
Tanjungpinang Barat adalah dengan melakukan penelitian tindakan kelas untuk
menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi . berdasarkan data awal yang
diperoleh bahwa pada sebelum siklus memperoleh hasil rata-rata penguasaan
konsep yaitu 45 dan keterampilan proses yaitu 43 dan dari hasil pembelajaran
dapat diuraikan beberapa permasalahan lainnya yaitu :
a. Hasil
pembelajaran sebagian siswa di bawah KKM
b. Siswa
tidak berani bertanya dn cenderun pasif
c. Guru
tidak mengunakan metode yang sesuai dengan materi yang sedang diajarkan
d. Siswa
tidak dapat menjawab pertanyaan guru
e. Sarana
dan prasangka kurang mendukung
Berdasarkan masalah tersebut yang menghambat siswa
untuk meraih hasil belajar yang lebih tinggi, maka guru mengadakan perbaikan
pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan terhadap pembelajaran tematik lintas
bidang studi dengan menggunakan kartu tematik.
Beberapa faktor penyebab rendah hasil belajar peserta didik dan
teridentifikasikan dan harus diperhatikan yaitu :
a.
Guru hanya menggunakan buku teks
pelajaran
b.
Aktivitas pembelajaran sangat kurang
karena hanya mendengarkan guru
Berbicara menyampaikan materi
c.
Penjelasan guru terlalu cepat,
menganggap materi yang sedang dipelajari mudah
karena sering ditemukan didalam kehidupan
sehari-hari.
d.
Guru hanya menggunakan metode ceramah
dan pendekatan subjek matter
e.
Alat peraga kurang menunjang
f.
Pertanyaan terlalu sulit untuk dipahami
oleh siswa
Untuk mengatasi hasil
belajar yang rendah tersebut, maka digunakan strategi penggunaan KARTU TEMATIK (KATIK)
agar dapat meningkatkan kemampuan siswa mengenal dan mengingat kembali hasil
kegiatan pembelajaran. Hal ini didasarkan bahwa pembelajaran dengan bermain
kartu “Tematik” akan lebih bermakna kepada peserta didik, karena selain
memberikan konsep yang lebih mudah, belajar sambil melakukan kegiatan yang
menyenangkan (bermain), mendekatkan siswa kehidupan sehari-hari, yang pada
akhirnya siswa akan mudah mengaplikasikan berbagai konsep dan pengetahuan dalam
kehidupan sehari-hari yang sangat bermakna dalam kehidupannya.
Berdasarkan latar
belakang masalah di atas, maka dalam penelitian ini kami mengkaji hal tersebut
dengan judul : Penggunaan “kartu
tematik” sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar tematik
siswa kelas II SDN 001 kecamatan
Tanjungpinang Barat, Kota Tanjungpinang.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah tersebut di atas, maka dalam penelitian
tindakan kelas ini di rumuskan permasalahan atau pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimana
efektivitas penggunaan kartu TEMATIK dengan Tema “ Kegiatan
sehari – hari pada siswa kelas 2 SDN 001 Tanjungpinang Barat.
2. Apakah
penggunaan kartu TEMATIK dengan Tema “ Kegiatan Sehari – hari” dapat
meningkatkan hasil pembelajaran di kelas 2 SDN 001 Tanjungpinang Barat.
C. Tujuan
Penelitian
Dalam Penelitian
tindakan kelas ini penulis bertujuan untuk :
1.
Untuk
mengetahui efektivitas penggunaan kartu TEMATIK dalam meningkatkan hasil
belajar Tematik dalam Tema “ kegiatan sehari - hari” pada siswa kelas 2 SDN 001
Tanjungpinang Barat, Kecamatan Tanjungpinang Barat.
2.
Untuk
mendeskripsikan dan mengetahui penggunaan kartu’Tematik” dalam meningkatkan
keaktifan belajar dalam pembelajaran tematik dengan tema kegiatan sehari-hari
pada siswa kelas 2 SDN 001 Tanjungpinang Barat, kecamatan Tanjungpinang Barat.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini
antara lain :
1.
Bagi
guru
Melalui penelitian ini, guru
dapat meningkatkan kinerja profesionalisme
seperti
yang tertuang dalam Permendiknas No.16 Tahun 2007 khususnya
pada indikator mengembangkan materi
pembelajaran yang diampu secara kreatif.
2. Bagi peserta didik
Melalui penggunaan media ajar “ kartu
tematik “ dalam model pembelajaran
terpadu, peserta didik memperoleh pengalaman
belajar yang beragam sehingga
dapat meningkatkan hasil belajar khususnya tema
kegiatan sehari – hari pada
aspek penguasaan konsep dan
keterampilan proses.
3. Bagi
Sekolah
Hasil akhir penelitian ini selain berkontribusi bagi
peningkatan mutu pembelajara di sekolah, juga menghasilkan model” kartu
Tematik” yang disusun oleh guru yang dapat dimanfaatkan pada tahun pelajaran
berikutnya dan membantu sekolah untuk selalu berkembang karena adanya
peningkatan/ kemajuan pada diri guru,siswa,dan pendidikan disekolah khususnya
di kota Tanjungpinang.
4.
Bagi Peneliti
Penelitian ini untuk menerapkan
pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan penelitian tindakan kelas dan
memberikan kontribusi serta menambah khasanah
kajian penelitian pendidikan.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
A. Bahan Ajar
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan
ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi
pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan (Dikdasmen,
2006).
Sebagaimana dikemukakan Pusat
Perbukuan (2004) bahwa Sifat bahan ajar dapat dibedakan
antara bahan ajar deskriptif dan normatif. Bahan ajar deskriptif berisi
fakta-fakta dan prinsip-prinsip, sedangkan
bahan ajar normatif berkaitan
dengan norma-norma, peraturan, moral dan estetika.
Disamping itu, bahan ajar bersifat unik dan spesifik,
dalam arti bahwa bahan ajar hanya dapat digunakan untuk pembelajar tertentu dalam
suatu proses pembelajaran tertentu pula. Bahan ajar bersifat spesifik, artinya isi bahan
ajar tersebut
dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu bagi pembelajar
tertentu.
B. Pengertian
Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti perantara yang
dipakai untuk menunjukkan alat komunikasi. Secara harfiah media diartikan
sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan ( Arief
S. Sadiman dkk, 2011:6)
Sedangkan Media menurut Briggs dalam
Sumantri (1998:176), adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan dari
pengirim ke penerima pesan serta perangsang peserta didik untuk belajar.
Menurut Gagne dan Reiser dalam Sumantri (1998:176) media adalah alat-alat fisik
yang dapat menyajikan pesan serta perangsang bagi peserta didik untuk belajar.
Menurut Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education
Association/NEA) dalam Rohani, (1997:2) berpendapat bahwa media adalah segala benda
yang dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta
instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut.
Menurut Blake dan Haralsen dalam
Rohani (1997:2) mengatakan bahwa media adalah medium yang digunakan untuk
membawa/menyampaikan sesuatu pesan, di mana medium ini merupakan jalan atau
alat dengan suatu pesan berjalan antara komunikator dengan komunikan.
Menurut Rohani (1997:4) media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam
proses belajar mengajar yang berupa perangkat keras maupun perangkat lunak
untuk mencapai proses dan hasil instruksional secara efektif dan efisien, serta
tujuan instruksional dapat dicapai dengan mudah.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat diambil kesimpulan yang
terkandung dalam pengertian media pembelajaran adalah :
1) Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa
ini dikenal sebagai hardware
(perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau
diraba dengan panca indera.
2) Media pendidikan memiliki pengertian non-fisik yang
dikenal sebagai software (perangkat
lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang
merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa.
3) Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan
audio.
4) Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada
proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
5) Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan
interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
6) Media pendidikan dapat digunakan secara massa (radio,
televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (film, slide, video, OHP), atau
perorangan (modul, komputer, radio/kaset, video recorder).
7) Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen
yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.
Media
mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar mengajar. Sebagai salah
satu komponen kegiatan belajar mengajar, media dan keterampilan menggunakan
media merupakan hal mutlak yang harus dikuasai guru dalam menunjang kegiatan
belajar mengajar.
Adapun
alasan penggunaan media pembelajaran adalah :
1)
Media
merupakan sumber utama yang menunjang proses belajar mengajar.
2)
Membantu
siswa memahami konsep dan memahami pelajaran yang dijelaskan guru.
3)
Membantu
guru untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar sehingga tujuan program
pengajaran dapat lebih tercapai.
4)
Media
merupakan sarana komunikasi antara guru dan siswa yang memungkinkan
pembelajaran berlangsung dalam suasana yang positif dan merangsang siswa untuk
lebih berkembang dalam hubungan yang interaktif.
C. Kartu Tematik Sebagai Media
Pembelajaran
Kartu Tematik adalah kertas tebal yang berbentuk segi empat dan berisikan
materia atau bahan ajar yang akan di sampaikan oleh guru kepada siswa yang di
dalamnya terdapat informasi yang akan diterjemahkan oleh siswa yaitu berupa
gambar, keterangan gambar, pertanyaan dan jawaban pertanyaan tergantung dari
kreativitas guru dalam menuangkan materi pembelajaran kedalam kartu tersebut .
Zainal Aqib (2002:99) menjelaskan pembelajaran melalui berbagai bentuk
permainan dapat memberikan pengalaman menarik bagi siswa dalam mengenal dan
memahami suatu konsep, menguatkan konsep yang telah dipahami atau memecahkan
masalah sehingga dapat meningkatkan atau mengembangkan motivasi intrinsik dan
memberikan kesempatan untuk melatih membuat keputusan dan mengembangkan
pengendalian emosi bila mengalami kekalahan maupun kemenangan dan juga kartu
Tematik dapat menimbulkan kegembiraan dan pengalaman yang menarik bagi siswa sehingga
dapat mengurangi kejenuhan bagi siswa .
D. Hasil Belajar
Hasil
belajar adalah kemampuan yang diperoleh
siswa setelah melalui kegiatan belajar. Sudjana (1989:41-43) mengatakan bahwa
ada beberapa faktor yan mempengaruhi kualitas pembelajaran yaitu :
a. Kompetensi
guru. guru sangat menentukan kulitas pembelajaran karena guru adalah sutradara
dalam proses pembelajaran. Seorang guru harus pandai - pandai dalam
merencanakan pengajaran termasuk memilih pendekatan maupun metode pengajaran.
b. Karakteristik
kelas, meliputi: besar kecilnya kelas, suasana belajar , fasilitas dan sumber
belajar.
c. Karakteristik
sekolah, berkaitan dengan disiplin sekolah, perpustakaan letak geografis
lingkungan sekolah estika dalam artian
sekolah memberikan perasaan nyaman dan kepuasan belajar, bersih, rapi dan
teratur.
Oemar
Hamalik(2011:30) juga mengatakan
bahwa hasil belajar menunjuk kepada prestasi belajar, dan prestasi belajar
merupakan indikator dan derajat adanya perubahan tingkah laku siswa.
sedangkan Slameto (2003:54) mengemukakan
bahwa faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut :
Tercapainya
suatu hasil belajar tidak lepas dari beberapa faktor yang mempengaruhi proses
hasil belajar tersebut, baik faktor intenal maupun eksternal. Faktor internal
adalah faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar dari individu yang sedang
belajar, meliputi Jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. Faktor
jasmaniah antara lain: faktor kesehatan dan cacat tubuh, perhatian,
minat,bakat, motif, kematangan dan kesiapan. Sedangkan Faktor eksternal adalah
faktor yang datangnya dari luar diri siswa sendiri, meliputi : faktor keluarga,
faktor sekolah, dan faktor masyarakat. Faktor sekolah diantaranya adalah
kualitas pengajaran dan tinggi rendahnya proses belajar mengajar dalam mencapai
tujuan pembelajaran.
Berdasarkan
dari beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas pengajaran tersebut di atas
bahwa guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembelajaran karena
proses belajar mengajar dan hasil belajar sebagian besar di tentukan oleh
peranan dan kompetensi guru . Guru yang berkompeten akan bisa mengelola
kelasnya sehingga mampu mengembangkan siswa dari berbagai ranah, baik itu ranah
kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga hasil belajar siswa meningkat dan
optimal.
E. Pembelajaran
Tematik
Model Pembelajaran Tematik adalah pembelajaran terpadu
yang menggunakan pendekatan Tematik ( Fogarty,1991). Pendekatan ini
pengembangannya di mulai dengan menentukan tema tertentu. Setelah tema
disepakati, maka di kembangkan menjadi subtema dengan memperlihatkan
keterikatan dengan bidang studi lain . setelah itu di di kembangkan melalui
berbagai aktivitas belajar yang mendukung. Tema merupakan pengikat setiap
kegiatan pembelajaran baik dalam mata pelajaran tertentu maupun lintas mata
pelajaran . Dengan demikian model ini merupakan model yang mempergunakan
pendekatan tematik lintas bidang studi . Dalam pembahasannya tema ini di tinjau
dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh tema :Kegiatan sehari-hari “ dapat
ditinjau dari berbagai mata pelajaran seperti , Matematika, Bahasa, IPS, Pkn
dan IPA.
Model ini sangat tepat diterapkan disekolah dasar karena
pada umumnya peserta didik masih melihat seala sesuatu sebagai suatu keutuhan
(Holistik), perkembangannya tidak bisa dipisahkan dengan perkembangan mental,
sosial,dan emosional terutama di kelas- kelas awal sekolah dasar.
Penetapan tema dilakukan dengan dua cara( Sa’ud,2006) Pertama, tema ditentukan terlebih dahulu
yaitu dari lingkungan terdekat peserta didik, dimulai dari hal yang termudah
menuju yang sulit, dari hal yang sederhana ke yang kompleks,dan dari hal yang
konkrit menuju hal yang abstrak. Cara ini dilakukan untuk kelas-kelas awal
SD/MI (kelas I dan II). Tema yang dikembangkan yaitu tema kegiatan sehari-hari.
Setelah tema di tentukan kemudian dilakukan pemetaan kompetensi dasar dan
indikator yang yang diperkirakan relevan dengan tema tersebut . Kedua, tema ditentukan setelah
mempelajari kompetensi dasar dan
indikator yang terdapat pada masing-masing mata pelajaran. Penetapan tema dapat
dilihat dengan melihat kemungkinan materi pelajaran yang dianggap dapat
mempersatukan beberapa kompetensi dasar pada beberapa mata pelajaran yang akan
dipadukan.
F. Keunggulan
Model Pembelajaran Tematik
Keunggulan model pembelajaran tematik antara lain, Faktor
motivasi berkembang karena adanya
pemilihan tema yang didasarkan pada minat peserta didik . Mreka dapat
dengan mudah melihat bagaimana kegiatan berbeda dengan ide yang berbeda dapat
saling berhubungan, kemudahan untuk lintas semester dlam KTSP sangat mendukung
untuk dapat dilaksanakan model pembelajaran ini ( Sa’ud, 2006)
G. Kelemahan
Model Pembelajaran Tematik
(Sa’ud, 2006) mengatakan bahwa Kelemahan model
pembelajaran tematik ini antara lain karena kecendrungannya untuk mengambil
tema adalah sangat dangkal sehingga kurang bermanfaat bagi peserta didik.
Selain itu seringkali guru berfokus pada kegiatan sehingga materi atau konsep
menjadi terabaikan. Perlu ada keseimbangan antara kegiatan dan pengembangan
materi pelajaran. Lebih lanjut di ungkapkan
Sa’ud (2006), kegiatan model pembelajaran tematik dapat dilakukan dalam
tiga cara , yaitu dengan mendesain : (1) perencanaan pembelajaran, (2) prosedur
pelaksanaan pembelajaran,dan (3)penilaian pembelajaran yang tepat.
. Langkah-langkah dalam
mengembangkan model perencanaan pembelajaran tematik pada tema “Kegiatan sehari
- hari” yaitu : (1) Menetapkan beberapa mata pelajaran yang akan dipadukan, (2)
Mempelajari kompetensi dasar dan indikator dari mata pelajaran yang akan
dipadukan, (3) Memilih dan menetapkan tema/topik pemersatu, (4) Membuat bagan
keterhubungan (untuk model tematik) kompetensi dasar dan tema/topik pemersatu,
dan (5) Menyusun silabus pembelajaran terpadu.
Disain pelaksanaan
pembelajaran tematik dapat dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP), yang terdiri dari tiga kegiatan, yaitu (1) kegiatan pendahuluan, (2)
kegiatan inti, dan (3) kegiatan akhir/tindak lanjut. Fungsi kegiatan
pendahuluan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif yang
memungkinkan peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
Kegiatan utama yang
dilaksanakan dalam pendahuluan pembelajaran yaitu : (1) menciptakan
kondisi-kondisi awal pembelajaran yang kondusif, (2) melaksanakan kegiatan
apersepsi, dan (3) penilaian awal (pre-test). Kegiatan inti merupakan
kegiatan dalam rangka pelaksanaan pembelajaran terpadu yang menekankan pada
proses pembentukan pengalaman belajar peserta didik (learning experiences). Pengalaman belajar bisa dalam bentuk : (1)
kegiatan tatap muka, yang dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang
dialkukan dengan mengembangkan bentuk-bentuk interaksi langsung antara guru
dengan peserta didik, (2) kegiatan non-tatap muka yang dimaksudkan sebagai
kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik dalam berinteraksi dengan sumber
belajar lain yang bukan kegiatan interaksi guru-peserta didik.
Faktor-faktor yang
harus diperhatikan dalam kegiatan akhir yaitu : (1) Kegiatan akhir dalam
pembelajaran terpadu tidak hanya diartikan sebagai kegiatan untuk menutup
pelajaran, tetapi juga sebagai kegiatan penilaian hasil belajar peserta didik
dan kegiatan tindak lanjut, (2) Kegiatan tindak lanjut harus ditempuh
berdasarkan pada proses dan hasil belajar peserta didik, (3) Waktu yang
tersedia untuk kegiatan ini relatif singkat, oleh karena itu guru perlu
mengatur dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin.
Secara umum kegiatan
akhir dan tindak lanjut dalam pembelajaran terpadu diantaranya kegiatan : (1)
melaksanakan dan mengkaji penilaian akhir, (2) melaksanakan tindak lanjut
pembelajaran, (3) menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh
peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu, dan memberikan motivasi atau
bimbingan belajar, (4) mengemukakan tentang topik yang akan dibahas pada waktu
yang akan datang, dan (5) menutup kegiatan pembelajaran.
F. Langkah-langkah
permainan Kartu Tematik
Langkah-langkah permainan kartu tematik
dapat dideskripsikan sebagai berikut :
(1)
Permainan terdiri dari enam kelompok
yang masin-masing kelompok terdiri dari 6 orang dan ada satu kelompok yang
tujuh orang.
(2)
Kartu sebanyak 36 tersebut di kocok dan
dia acak kemudian siswa di beri kartu tematik amsing-masing sebanyak enam
kartu.
(3)
Siswa
yang mendapatkan giliran pertama membacakan kartu master yang di milikinya
diikuti temannya yang lain memberi
menyebutkan atas kartu sejenis yang di milikinya . Kemudian pertanyaan yang
terdapat pada kartu selain master yang sesuai dengan judul pelajarannya di
tanyakan pada teman yang memiliki kartu master sementara kartu lain di tutup
agar bisa fokus pada pertanyaan . jika jawaban benar yang memiliki kartu master
mendapatkan nilai 2 jika salah nilainya 0.setelah itu kartu pertanyaan di
kumpulkan dan di hitung berapa jumlah jawaban yang benar,score perolehannya di
tulis pada lembar score yang tersedia di masing-masing kelompok sesuai dengan
urutan membuat atau gilirannya bagi yang mendapatkan kartu master.
(4)
setelah
selesai permainan masing-masing kelompok memperesentasikan hasil salah satu
pelajaran yang di tentukan untuk di tampilkan pada media papan lingkaran serba
guna agar hasil pembelajaran untuk lebih mengetahui tingkat keberhasilan
pembelajaran permasing-masing kelompok.
Secara lebih
detail tema dan kartu tematik yang digunakan dalam pembelajaran dapat dilihat
pada lampiran.
H. Kerangka Berfikir
Pemanfaatan metode pembelajaran yang cocok dan
penerapannya yang sesuai sangat berpengaruh terhadap penguasaan materi oleh
pesertra didik. Model pembelajaran yang tidak sesuai cenderung cenderung
membuat prestasi belajar siswa menjadi rendah. Sesuai dengan data awal dari
hasil yang diperoleh bahwa masih banyak siswa yang prestasi belajarnya belum
mencapai target kriteria ketuntasan
belajar yang ditetapkan di sekolah, yaitu sebesar 70.
Mempertimbangkan begitu pentingnya peranan
pembelajaran Tematik dalam membelajarkan siswa untuk memahami konsep secara
komperhensip dan menyeluruh (holistik) dan ridak Sparsial (terpisah-pisah) bagi
kesinambungan pembelajaran siswa di masa mendatang . Permainan KATIK (Kartu
Tematik ) adalah salah satu solusi untuk membelajarkan siswa agar pembelajaran
menjadi lebih bervariasi dan mengembirakan sehinga pembelajaran akan menjadi
lebih bermakna.(meaningfull).
Dari kajian yang dilakukan oleh peneliti, di peroleh
kesimpulan menyangkut penyebab masalah terletak dari model pembelajarannya
belum mampu memotivasi siswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam mengikuti
proses pembelajaran. Oleh karena itu guru
sebagai peneliti memilih untuk menerapkan penggunaan kartu Tematik dalam
mengatasi masalah yang dimaksud.
Dengan upaya yang dilakukan dalam penjelasan di
atas, diharapkan proses pembelajaran akan berjalan lebih aktif dan menyenangkan
sehingga dengan demikian akan mendorong motivasi prestasi belajar siswa dalam
mencapai kriteria ketuntasan belajar sesuai dengan yang diharapkan.
I.
Hipotesis
Tindakan
Hipotesis penelitian ini termasuk
jenis hipotesis tindakan . Hipotesis tindakan dapat di rumuskan berdasarkan
pemikiran bahwa tindakan yang dilakikan akan mampu mengatasi permasalahan yang
ada. Rencana Hipotesis yang disampaikan adalah: Jika Pengunaan Kartu Tematik (
KATIK ) dapat dilaksanakan secara maksimal maka prestasi belajar siswa pad
pembelajaran tematik dengan tema kegiatan sehari-hari di kelas II SDN 001
Tanjungpinang Barat akan dapat ditingkatkan
BAB
III
METODELOGI PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat Penelitian
1.
Waktu
Penelitian
Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret sampai dengan
bulan Mei 2014. Sebagai gambaran dari pelaksanaan penelitian ini dapat dilihat
pada tabel berikut ini :
Jadwal Penelitian
Tabel 3.1
No
1
|
Kegiatan
|
Maret
|
April
|
Mei
|
||||||||||||
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
||
Penyusunan
Proposal dan pelaksanaan kegiatan awal
|
||||||||||||||||
2
|
Perencanaan
Tindakan I
|
|||||||||||||||
3
|
Pelaksanaan
tindakan I
|
|||||||||||||||
4
|
Pengamatan/Pengumpulan
data I
|
|||||||||||||||
5
|
Refleksi I
|
|||||||||||||||
6
|
Perencanaan
Tindakan II
|
|||||||||||||||
7
|
Pelaksanaan
Tindakan II
|
|||||||||||||||
8
|
Pengamatan/
pengumpulan data II
|
|||||||||||||||
9
|
Refleksi
II
|
|||||||||||||||
10
|
Penulisan
Laporan/ penjilidan
|
|||||||||||||||
2.
Tempat
Penelitian
Penelitian Tindakan kelas ini
dilaksanakan di SD Negeri 001Tanjungpinang Barat kelas II semester 2 tahun
ajaran 2013/2014 .
B. Metode Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, metode yang digunakan
adalah penelitian tindakan kelas (classroom
action research). Menurut Kemmis
dan Mc. Taggart (dalam Rafi′uddin, 1996) penelitian tindakan dapat dipandang
sebagai suatu siklus spiral dari penyusunan perencanaan, pelaksanaan tindakan,
pengamatan (observasi), dan refleksi yang selanjutnya mungkin diikuti dengan
siklus spiral berikutnya. Penelitian dimulai dari fase refleksi awal untuk
melakukan studi pendahuluan sebagai dasar dalam merumuskan masalah penelitian.
Selanjutnya diikuti perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Tahapan
pelaksanaan fase-fase penelitian tergambar dalam bagan berikut.
D.
E.
F.
G.
H.
I.
J.
K.
L.
M.
N.
O.
P.
Gambar 3.2 Tahapan
Penelitian Tindakan Kelas
C.
Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi penelitian
Populasi penelitian
tindakan kelas ini adalah keseluruhan siswa kelas II yang berjumlah 37 orang
siswa yang terdiri 14 siswa perempuan dan 23 siswa laki-laki SD Negeri 001
kecamatan Tanjungpinang Barat Tahun pelajaran 2013/2014. 35 orang peserta didik telah lancar
membaca dan dua orang peserta didik (1 perempuan dan 1 laki-laki) masih
membutuhkan bimbingan khusus dalam kegiatan pembelajaran khususnya membaca.
2. Sampel
Penelitian
sedangkan
sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas II yakni 37 siswa dan guru yang
mengajar di kelas yang sama .
D.
Variabel Penelitian
Adapun Variabel
penelitian tindakan kelas ini adalah :
1.
Efektivitas dan Kreativitas siswa
2.
Hasil belajar siswa
3.
Penggunaan Kartu Tematik
Penulis membatasi penelitian pada ketiga
variable di atas agar penelitian lebih fokus dan tidak melebar.
E. Sumber Data
Penelitian
Sumber data pada penelitian tindakan
kelas ini adalah siswa kelas II SD Negeri 001 Tanjungpinang Barat semester
genap tahun pelajaran 2013/2014 serta
linkungan yang mendukung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan jenis
data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan kualitatif yang terdiri dari
kondisi awal siswa, Hasil belajar siswa, tanggapan siswa . Data kondisi awal
siswa di peroleh melalui hasil observasi dan dokumentasi hasil belajar siswa
pada pembelajaran tematik dengan tema “kegiatan sehari-hari”, hasil belajar
siswa di peroleh dengan memberikan tes tertulis pada siswa yang dilaksanakan
pada akhir siklus, penilaian proses afektif
dan psikomotorik di ambil melalui observasi. Data tentang tanggapan siswa
melalui lembar kuisioner.
F. Instrumen Penilaian
Instrumen
penilaian pada penelitian tindakan kelas ini adalah menghitung data dengan
langkah sebagai berikut :
1. Merekapitulasi
nilai ulangan harian sebelum dilakukan tindakan dan nilai tes akhir siklus I
dan siklus II , menghitung rerata atau persentase hasil belajar siswa sebelum
dilakukan tindakan siklus I dan siklus II untuk mengetahui adanya peningkatan
hasil belajar
Nilai rata-rata siswa dicari dengan
menggunkan rumus sebagai berikut :
N
Keterangan :
X = Nilai rata-rata
∑x = Jumlah nilai seluruh siswa
N = Banyaknya siswa yang mengikuti tes
2.
Data tentang ketuntasan belajar siswa di
hitung dengan menggunakan rumus deskriptif persentase sebagai berikut :

N
Keterangan :
% = Persentase
n = Jumlah skor yang diperoleh dari data
N = Jumlah skor maksimal
( Ali, 1984:184)
3.
Data tentang hasil
belajar (kognitif) siswa dihitung dengan mengunkan rumus sebagai berikut :
Data tentang hasil
belajar (kognitif) siswa dihitung dengan mengunkan rumus sebagai berikut :
Jumlah seluruh soal
4.
Data hasil Observasi untuk penilaian
afektif dan psikomotorik siswa di hitung dengan menggunkan rumus sebagai
berikut :


G.
Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1. Teknik pengumpulan data
Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, yaitu mengumpulkan data
melalui pengamatan langsung secara sistematis mengenai permasalahan yang akan
diteliti, kemudian dibuat catatan, sesuai dengan hal tersebut. Jenis observasi
yang digunakan adalah observasi langsung..
2. Alat
Pengumpulan Data
Alat
pengumpulan Data pada penelitian tindakan ini adalah berupa data kualitatif dan
kuantitatif berupa lembar observasi dan daftar nilai dari butir soal yang
diberikan kepada siswa untuk pengumpulan data awal sampai dengan data akhir
pada siklus I dan siklus II.
H.
Teknik Pengolahan Data
Teknik
pengolahan data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah
teknik secara kualitatif dan kuantitatif dimana data kualitatif diperoleh dari
hasil observasi yang dilakukan terhadap kegiatan siswa pada penggunaan kartu
tematik di dalam proses belajar mengajar
sedangkan data kuantitatif di peroleh dari hasil tes tertulis yang
diberikan kepada siswa berupa lembar
kerja siswa.
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan
observasi dari pelaksanaan siklus penelitian dianalisis secara deskriptif
dengan menggunakan teknik presentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi
dalam kegiatan pembelajaran
I. Prosedur Penelitian
1)
Siklus I
a.
Refleksi Awal
Identifikasi awal dan permasalahan yang
berhubungan dengan aktivitas belajar siswa, kompetensi dan hasil belajar siswa
dalam pembelajaran “Tematik” sebelumnya diperoleh permasalahan yang meliputi
: sebagian siswa mengalami kesulitan
belajar, diantaranya hasil belajar “Tematik” yang rendah, kurang memahami
konsep-konsep keterpaduan antar bidang studi yang dipelajari, dan sering tidak
konsenstrasi dalam mengikuti pembelajaran di kelas.
Selain itu aktivitas siswa dalam
pembelajaran cenderung pasif, hanya sebagian kecil saja siswa yang aktif dalam
pembelajaran. Respon pasif ini ditandai dengan partisipasi dan respon siswa
yang rendah dalam kegiatan belajar mengajar. Indikatornya adalah rendahnya
minat siswa untuk bertanya tentang materi pembelajaran, rendahnya kemampuan
siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan materi
pembelajaran, rendahnya kemauan siswa untuk melaksanakan tugas-tugas
pembelajaran, dan sebagainya.
b.
Perencanaan
Perencanaan
ini berdasarkan pada refleksi awal (observasi pendahuluan). Pada
kegiatan ini dilakukan kegiatan sebagai berikut.
1.
Melakukan
persiapan tindakan dan waktu tindakan untuk siklus 1.
2.
Menyusun
rencana pembelajaran yang digunakan pada siklus 1, yaitu merancang pembelajaran dengan penggunaan
kartu ”TEMATIK” sebagai media pembelajaran dalam memahami pembelajaran
terpadu yang mengaitkan beberapa mata pelajaran yang berkaitan dengan tema kegiatan
sehari - hari.
3.
Menyusun
observasi pelaksanaan yang meliputi aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran.
4.
Menyusun
evaluasi pembelajaran untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah pelaksanaan
tindakan.
5.
Menyusun
rencana pengolahan data, baik kualitatif maupun kuantitatif.
c.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan
setelah ditemukan berbagai permasalahan di atas, dan melaksanakan segala hal
yang telah direncanakan, yaitu merancang pembelajaran dengan penggunaan kartu
”TEMATIK” sebagai media pembelajaran dalam memahami pembelajaran terpadu yang berkaitan dengan tema kegiatan
sehari - hari .
d.
Observasi
Dalam tahap ini, peneliti mengobservasi
hasil dari pelaksanaan dari siklus I, yang meliputi:
1.
Mengobservasi aktivitas
belajar siswa
2.
Mengobservasi hasil
belajar siswa
e.
Refleksi
Hasil dari pelaksanaan tersebut
dievaluasi kembali untuk memperbaiki dan melaksanakan program berikutnya
ataupun memperbaiki segala sesuatu yang masih belum tercapai. Refleksi juga diadakan pembahasan dan diskusi
bersama guru lain yang juga mengobservasi aktivitas pembelajaran.
Persoalan pokok dalam refleksi ini
adalah :
1.
Peranan
dan hasil dari pelaksanaan tindakan dalam siklus I
2.
Kesesuaian
antara tindakan yang dilaksanakan dengan hasil yang diharapkan.
3.
Relavansi
peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran MATEMATIKA,BAHASA,IPS, PKN,SAINS/IPA.
2)
Siklus II
a.
Refleksi Awal
Refleksi awal pada siklus II didasarkan
pada identifikasi awal dan hasil dari pelaksanaan siklus I. Siklus II dilakukan
sebagai bagian dari kelanjutan dan penyempurnaan dalam siklus I.
b.
Perencanaan
Pada kegiatan ini dilakukan kegiatan
sebagai berikut.
1.
Melakukan
persiapan tindakan dan waktu tindakan untuk siklus II.
2.
Menyusun
rencana pembelajaran yang digunakan pada siklus II.
3.
Menyusun
observasi pelaksanaan yang meliputi aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran.
4.
Menyusun
evaluasi pembelajaran untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah pelaksanaan
tindakan.
5.
Menyusun
rencana pengolahan data, baik kualitatif maupun kuantitatif.
c.
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan
setelah ditemukan berbagai permasalahan di atas, dan melaksanakan segala hal
yang telah direncanakan. Pelaksanaan tindakan meliputi :
1.
Langkah 2
Mengobservasi proses pembelajaran yang
dilaksanakan terutama dalam aktivitas belajar siswa.
2.
Langkah 3
-
Mengadakan
evaluasi materi dan hasil belajar
d.
Observasi
Dalam tahap
ini, peneliti mengobservasi hasil dari pelaksanaan dari siklus II.
e.
Refleksi
Hasil dari
pelaksanaan tersebut dievaluasi kembali untuk memperbaiki dan melaksanakan
program berikutnya ataupun memperbaiki segala sesuatu yang masih belum
tercapai. Refleksi juga diadakan
pembahasan dan diskusi bersama guru lain yang juga mengobservasi aktivitas dan
hasil belajar.
3.
Nilai
dan kriteria penilaian adalah sebagai berikut :
Tabel 3.3
No
|
Kriteria
|
Nilai
|
|
1
|
Angka yang
didapatkan lebih besar dari kelompok lainnya adalah
|
Menang Angka
|
Kalah Angka
|
2
|
0
|
||
2
|
Dapat
menjawab pertanyaan dalam kartu poinnya
|
Benar
|
Salah
|
2
|
0
|
||
3
|
Tidak Dapat
menjawab pertanyaan dalam kartu poinnya adalah
|
salah
|
Salah
|
0
|
0
|
||
Tabel 3.4
Deskripsi Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Siklus 2
No
|
Deskripsi
|
Kategori
|
|
Aktif
|
Tidak Aktif
|
||
1
|
Respon
siswa dalam mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan
|
33
(89,18%)
|
4
(10,81%)
|
2
|
Respon siswa dalam berargumentasi dan mengemukakan
pendapat
|
30
(8108%)
|
7
(18,9 %)
|
3
|
Minat dan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran
|
37
(100%)
|
0
(0%)
|
4
|
Keaktifan siswa dalam melaksanakan tugas-tugas
pembelajaran
|
37
(100%)
|
0
(0%)
|
5
|
Membantu kelancaran interaksi proses belajar mengajar
|
34
(91,89%)
|
3
(8,11%)
|

No comments:
Post a Comment