Wednesday, January 23, 2019

PENGGUNAAN KATIK (KARTU TEMATIK) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR KELAS 2 SDN 001 TANJUNGPINANG BARAT

ABSTRAK

Pembelajaran yang berhasil ditunjukkan pada tingkat kemampuan siswa terhadap pembelajaran tematik. Dari hasil pengamatan penulis sebagai guru kelas pada proses belajar mengajar dan hasil yang dicapai siswa pada Tema Kegiatan sehari-hari pada pembelajaran terpadu lintas bidang studi menunjukkan rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap tema tersebut hal ini terlihat ketika penulis tidak menggunakan kartu tematik di dalam pembelajaran.siswa cendrung kurang termotivasi di dalam pembelajaran. Hal ini terlihat hanya 16 siswa dari 37 orang siswa mencapai tingkat penguasaan materi 43,24 % keatas, tetapi setelah peneliti menggunakan kartu tematik sebagai media pembelajaran tematik khususnya tema Kegiatan Sehari-hari ,dari hasil ulangan ternyata yang menguasai materi menjadi meningkat, yaitu 27 orang siswa dari 37 siswa mencapai tingkat kemampuan materi 72,97% .
Menurut Oemar Hamalik ( 1995 : 159 ) ”hasil belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran ( pengumpulan data dan informasi ), pengolahan, penafsiran, dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan yang telah diterapkan. Hasil belajar menunjukkan pada prestasi belajar, sedangkan pretasi belajar itu merupakan indikator adanya derajat perubahan.
Penelitian ini bertujuan untuk : (1) untuk mendeskripsikan dan mengetahui penggunaan kartu “Tematik” dalam meningkatkan keaktifan belajar dalam pembelajaranTematik, (2) mengetahui efektivitas penggunaan kartu “Tematik” dalam meningkatkan hasil belajar Tematik dengan tema kegiatan sehari-hari siswa kelas II SDN 001 Tanjungpinang Barat Kecamatan Tanjungpinang Barat.
Metode penelitian ini, digunakan pendekatan penelitian tindakan kelas. Subjek dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SDN 001 Tanjungpinang Barat  Kecamatan Tanjungpinang Barat yang berjumlah 37 siswa. Metode pengumpulan data adalah observasi, catatan lapangan, dan tes. Data dianalisis secara kualitatif dengan indikator keberhasilan membandingkan tingkat keberhasilam tindakan pada siklus I dan II dengan refleksi awal timbulnya permasalahan sebelum diberikan tindakan, dengan kriteria hasil belajar siswa baik, jika memperoleh hasil belajar dengan nilai ³ 70.
Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran dengan penggunaan kartu “Tematik” sebagai media pembelajaran Tematik dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa. Hasil belajar dalam siklus I, siswa yang berhasil dalam  pembelajaran dengan memperoleh nilai ³ 70 adalah 27 orang (72,97%) dan siswa yang tidak berhasil atau mengalami kesulitan belajar dengan nilai < 70 adalah 10 orang (27,02%). Siklus II, siswa yang berhasil dalam  pembelajaran dengan memperoleh nilai ³ 70 adalah 32 orang (84,49%) dan siswa yang tidak berhasil atau mengalami kesulitan belajar dengan nilai < 70 adalah 5 orang 13,51%).
Dapat disimpulkan bahwa penggunaan Kartu ”Tematik”  sebagai media pembelajaran Tematik terpadu lintas bidang studi terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas rendah khususnya kelas II.
Setelah diadakan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan media kartu tematik hasil belajar siswa meningkat. Oleh karena itu maka dapat disimpulkan bahwa :
1.      Penggunaan metode yang sesuai dan tepat dengan materi yang disajikan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2.      Penggunaan media kartu tematik dalam belajar adalah sangat efektif dan baik untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Learning is successfully demonstrated at the level of students towards subjects capabilities. From observations of the writer as a classroom teacher in the learning process and the results achieved by students on the theme of Their Self in integrated learning across subject areas showed low levels of student mastery of the themes this looks when the teacher does not use the thematic  card in the teaching process tends less motivated in the teaching and learning process. it is visible only 16 students from 37 students to achieve mastery of the material level of 43.24% and above, but after the researchers used the card as a medium of learning by particularly  thematic theme is their self. of the test results turned out to master the material to be increased, ie 27 students of 37 students attained 72.97% of material capabilities.
 According Oemar Hamalik (1995: 159) "is a whole learning outcomes measurement activities (data collection and information), processing, interpretation, and discretion to make decisions about the level of learning outcomes achieved by students after learning activities in an effort to achieve the objectives that have been applied . The results of study showed on learning achievement, while the interpretation of learning it is an indicator of the degree of change.
This Research aims to: (1)  describe and know the use of "Thematic cards” in enhancing learning activeness in integrated learning, (2) examine the effectiveness of the use of "Thematic card"  in improving learning outcomes with the theme of self Thematic grade II SDN 001 Tanjungpinang Barat, subdistrict Tanjungpinang Barat.
Ketikkan teks atau alamat situs web atau terjemahkan dokumen.

Terjemahan Bahasa Indonesia ke Inggris

This research method, used class action research approach. Subjects in this study were all students in grade II SDN 001 in Tanjungpinang Barat, Tanjungpinang City, amounting to 37 students. Methods of data collection are observation, field notes, and tests. Data were analyzed qualitatively by comparing the level of success indicators successfully action on the cycle I and II with the early onset of the problem of reflection before action is given, with good students learning outcomes, if the study results to the value of ³ 70.
The results suggest learning to use the "Thematic card"  Thematic learning as a medium in improving student learning activity. Learning outcomes in the cycle I, students who succeed in learning to obtain the value of ³ 70 is 27 people (72.97%) and students who did not work or have difficulty learning to value <70 is 10 people (27.02%). Cycle II, students who succeed in learning to obtain the value of ³ 70 is 32 people (84.49%) and students who did not work or have difficulty learning to value <70 is 5 people ( 13.51%).  
It can be concluded that the use of the "Thematic Card" as an integrated cross-media learning subjects proven to improve student learning outcomes in particular class After the improvement of learning held by using a media card thematic increased student learning outcomes. Therefore it can be concluded that:
1. Use of appropriate methods and precise with the material presented can be improved.
2. The use of media in learning thematic card is effective and good to improve the quality of learning.


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
 Pembelajaran di kelas rendah Pada umumnya dikemas menggunakan model pembelajaran terpadu dengan menggunakan pendekatan tematik dan mengacu pada Standar Isi Permendiknas No.22 Tahun 2007. Pembelajaran terpadu yang diterapkan di kelas rendah adalah pembelajaran terpadu lintas bidang studi menggunakan model “Tematik ( lintas bidang studi )”. Penetapan pendekatan tematik dalam pembelajaran di SD dikarenakan perkembangan peserta didik pada kelas rendah sekolah dasar, pada umumnya berada pada tingkat perkembangan yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta baru mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana (Diknas, 2006). Pembelajaran subject matter (berdasarkan materi Pelajaran) menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik mengaitkan  konsep dengan kehidupan nyata mereka sehari-hari (Mulyasa, 2004).
Implementasi pembelajaran model Tematik di sekolah-sekolah dasar hingga saat ini masih mengalami kendala. Menurut Puskur (2007), pelaksanaan pembelajaran tematik di kelas I-III belum berjalan sesuai dengan ketentuan Standar Isi, karena guru-guru mengalami kesulitan dalam menyusun silabus sesuai dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang ditetapkan dalam Standar Isi. Selain itu guru-guru mengalami kesulitan dalam mengalokasikan waktu yang harus dipergunakan dalam seminggu, karena tidak ada ketentuan alokasi waktu untuk setiap tema yang ditetapkan.
Hal ini disebabkan guru-guru belum memahami esensi dan praktek pembelajaran tematik. Banyak guru yang belum mendapat pelatihan yang cukup memadai dalam pelaksanaan pembelajaran tematik (Puskur, 2007). Padahal keberhasilan pembelajaran tematik ditentukan pula oleh kemampuan dan pemahaman guru mengenai pembelajaran tematik, disamping latar belakang pendidikan guru juga memberikan pengaruh yang cukup berarti. Hal ini menyebabkan pelaksanaan pembelajaran tematik belum bisa dilaksanakan secara utuh (Hesty, 2008).
Kendala - kendala yang muncul dalam implementasi pembelajaran tematik ini terjadi pula pada SDN 001 Tanjungpinang Barat. Secara administratif guru kelas II telah mampu menyusun model pembelajaran tematik sejak tahun pelajaran 2008/2009, namun mengalami kesulitan untuk mengimplementasikan dalam proses pembelajaran.  Berdasarkan hasil refleksi, ditemukan sejumlah fakta bahwa tidak semua model pembelajaran tematik yang disusun oleh guru kelas II berjalan sesuai dengan rencana.
Upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran pun dilakukan oleh guru kelas II untuk menghindari kegagalan pembelajaran tematik pada awal tahun pelajaran 2013/2014, dengan memilih pendekatan subject matter. Pertimbangan guru kelas II mengajarkan pembelajaran tematik dengan pendekatan subject matter antara lain adalah faktor ketersediaan buku teks di sekolah yang  dikemas dalam bentuk buku teks ajar tematik belum memadai. Strategi guru kelas II mengemas mata pelajaran tematik dengan pendekatan subject matter ternyata menimbulkan masalah yang baru karena kurangnya perencaan yang matang dalam memperbaiki proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan proses pembelajaran yang diterapkan mengarah pada pembelajaran konvensional (teacher centered) sehingga peran guru lebih dominan dibandingkan peserta didik. Metode ceramah dan penugasan LKS telah menjadi metode favorit guru sepanjang tahun pelajaran 2008/2009 hingga akhir semester 1 tahun pelajaran 2013/2014. Hal tersebut mengakibatkan pembelajaran Tematik tidak dilaksanakan sesuai dengan hakikatnya bahwa pembelajaranTematik sebaiknya dilakukan secara terpadu dengan inkuiri ilmiah (Permendiknas No.22 Tahun 2007).
Kelemahan penerapan strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru dapat memiliki dampak pada hasil belajar peserta didik. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran sehingga pembelajaran Tematik dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki proses pembelajaran di kelas II SDN 001 Tanjungpinang Barat adalah dengan melakukan penelitian tindakan kelas untuk menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi . berdasarkan data awal yang diperoleh bahwa pada sebelum siklus memperoleh hasil rata-rata penguasaan konsep yaitu 45 dan keterampilan proses yaitu 43 dan dari hasil pembelajaran dapat diuraikan beberapa permasalahan lainnya yaitu :
a.    Hasil pembelajaran sebagian siswa di bawah KKM
b.    Siswa tidak berani bertanya dn cenderun pasif
c.    Guru tidak mengunakan metode yang sesuai dengan materi yang sedang diajarkan
d.   Siswa tidak dapat menjawab pertanyaan guru
e.    Sarana dan prasangka kurang mendukung
Berdasarkan masalah tersebut yang menghambat siswa untuk meraih hasil belajar yang lebih tinggi, maka guru mengadakan perbaikan pembelajaran untuk meningkatkan penguasaan terhadap pembelajaran tematik lintas bidang studi dengan menggunakan kartu tematik.
        Beberapa faktor penyebab rendah hasil belajar peserta didik dan teridentifikasikan dan harus diperhatikan yaitu :
a.    Guru hanya menggunakan buku teks pelajaran
b.    Aktivitas pembelajaran sangat kurang karena hanya mendengarkan guru
     Berbicara menyampaikan materi
c.    Penjelasan guru terlalu cepat, menganggap materi yang sedang dipelajari mudah
     karena sering ditemukan didalam kehidupan sehari-hari.
d.   Guru hanya menggunakan metode ceramah dan pendekatan subjek matter
e.    Alat peraga kurang menunjang
f.     Pertanyaan terlalu sulit untuk dipahami oleh siswa

Untuk mengatasi hasil belajar yang rendah tersebut, maka digunakan strategi penggunaan KARTU TEMATIK (KATIK) agar dapat meningkatkan kemampuan siswa mengenal dan mengingat kembali hasil kegiatan pembelajaran. Hal ini didasarkan bahwa pembelajaran dengan bermain kartu “Tematik” akan lebih bermakna kepada peserta didik, karena selain memberikan konsep yang lebih mudah, belajar sambil melakukan kegiatan yang menyenangkan (bermain), mendekatkan siswa kehidupan sehari-hari, yang pada akhirnya siswa akan mudah mengaplikasikan berbagai konsep dan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari yang sangat bermakna dalam kehidupannya.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dalam penelitian ini kami mengkaji hal tersebut dengan judul :   Penggunaan “kartu tematik” sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar tematik siswa kelas II SDN 001   kecamatan Tanjungpinang Barat, Kota Tanjungpinang.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah tersebut di atas, maka dalam penelitian tindakan kelas ini di rumuskan permasalahan atau pertanyaan sebagai berikut :
1. Bagaimana efektivitas penggunaan kartu TEMATIK dengan Tema “ Kegiatan
   sehari – hari pada siswa kelas 2 SDN 001 Tanjungpinang Barat.
2. Apakah penggunaan kartu TEMATIK dengan Tema “ Kegiatan Sehari – hari” dapat meningkatkan hasil pembelajaran di kelas 2 SDN 001 Tanjungpinang Barat.

C.  Tujuan Penelitian
 Dalam Penelitian tindakan kelas ini penulis bertujuan untuk :
1.    Untuk mengetahui efektivitas penggunaan kartu TEMATIK dalam meningkatkan hasil belajar Tematik dalam Tema “ kegiatan sehari - hari” pada siswa kelas 2 SDN 001 Tanjungpinang Barat, Kecamatan Tanjungpinang Barat.
2.    Untuk mendeskripsikan dan mengetahui penggunaan kartu’Tematik” dalam meningkatkan keaktifan belajar dalam pembelajaran tematik dengan tema kegiatan sehari-hari pada siswa kelas 2 SDN 001 Tanjungpinang Barat, kecamatan Tanjungpinang Barat.
D.  Manfaat Penelitian
 Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain :
1.         Bagi guru
     Melalui penelitian ini, guru dapat meningkatkan kinerja profesionalisme
     seperti yang tertuang dalam Permendiknas No.16 Tahun 2007  khususnya
         pada indikator mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
2.    Bagi peserta didik
    Melalui penggunaan media ajar “ kartu tematik “ dalam model pembelajaran
    terpadu, peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang beragam sehingga
      dapat meningkatkan hasil belajar khususnya tema kegiatan sehari – hari  pada
      aspek penguasaan konsep dan keterampilan proses.
3.    Bagi Sekolah
Hasil akhir penelitian ini selain berkontribusi bagi peningkatan mutu pembelajara di sekolah, juga menghasilkan model” kartu Tematik” yang disusun oleh guru yang dapat dimanfaatkan pada tahun pelajaran berikutnya dan membantu sekolah untuk selalu berkembang karena adanya peningkatan/ kemajuan pada diri guru,siswa,dan pendidikan disekolah khususnya di kota Tanjungpinang.
4.      Bagi Peneliti
Penelitian ini untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan penelitian tindakan kelas dan memberikan kontribusi serta menambah khasanah  kajian penelitian pendidikan.

BAB II
LANDASAN TEORI

A.  Bahan Ajar
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar atau materi pembelajaran. Prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan (Dikdasmen, 2006).
Sebagaimana dikemukakan Pusat Perbukuan (2004) bahwa Sifat bahan ajar dapat dibedakan antara bahan ajar deskriptif dan normatif. Bahan ajar deskriptif  berisi fakta-fakta dan prinsip-prinsip, sedangkan bahan ajar normatif  berkaitan dengan norma-norma, peraturan, moral dan estetika. Disamping itu, bahan ajar bersifat unik dan spesifik, dalam arti bahwa bahan ajar hanya dapat digunakan untuk pembelajar tertentu dalam suatu proses pembelajaran tertentu pula. Bahan ajar bersifat spesifik, artinya isi bahan ajar tersebut dirancang sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu bagi pembelajar tertentu.

B.  Pengertian Media Pembelajaran
Media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti perantara yang dipakai untuk menunjukkan alat komunikasi. Secara harfiah media diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan ( Arief S. Sadiman dkk, 2011:6)
Sedangkan Media menurut Briggs dalam Sumantri (1998:176), adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan dari pengirim ke penerima pesan serta perangsang peserta didik untuk belajar. Menurut Gagne dan Reiser dalam Sumantri (1998:176) media adalah alat-alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta perangsang bagi peserta didik untuk belajar.
Menurut Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association/NEA)  dalam Rohani, (1997:2) berpendapat bahwa media adalah segala benda yang dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut.
Menurut Blake dan Haralsen dalam Rohani (1997:2) mengatakan bahwa media adalah medium yang digunakan untuk membawa/menyampaikan sesuatu pesan, di mana medium ini merupakan jalan atau alat dengan suatu pesan berjalan antara komunikator dengan komunikan. 
Menurut Rohani (1997:4) media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam proses belajar mengajar yang berupa perangkat keras maupun perangkat lunak untuk mencapai proses dan hasil instruksional secara efektif dan efisien, serta tujuan instruksional dapat dicapai dengan mudah.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat diambil kesimpulan yang terkandung dalam pengertian media pembelajaran adalah :
1)      Media pendidikan memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu benda yang dapat dilihat, didengar, atau diraba dengan panca indera.
2)      Media pendidikan memiliki pengertian non-fisik yang dikenal sebagai software (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang merupakan isi yang ingin disampaikan kepada siswa.
3)      Penekanan media pendidikan terdapat pada visual dan audio.
4)      Media pendidikan memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik di dalam maupun di luar kelas.
5)      Media pendidikan digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
6)      Media pendidikan dapat digunakan secara massa (radio, televisi), kelompok besar dan kelompok kecil (film, slide, video, OHP), atau perorangan (modul, komputer, radio/kaset, video recorder).
7)      Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan penerapan suatu ilmu.
Media mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar mengajar. Sebagai salah satu komponen kegiatan belajar mengajar, media dan keterampilan menggunakan media merupakan hal mutlak yang harus dikuasai guru dalam menunjang kegiatan belajar mengajar.
Adapun alasan penggunaan media pembelajaran adalah :
1)      Media merupakan sumber utama yang menunjang proses belajar mengajar.
2)      Membantu siswa memahami konsep dan memahami pelajaran yang dijelaskan guru.
3)      Membantu guru untuk lebih mengefektifkan proses belajar mengajar sehingga tujuan program pengajaran dapat lebih tercapai.
4)      Media merupakan sarana komunikasi antara guru dan siswa yang memungkinkan pembelajaran berlangsung dalam suasana yang positif dan merangsang siswa untuk lebih berkembang dalam hubungan yang interaktif.

C.   Kartu Tematik Sebagai Media Pembelajaran
Kartu Tematik adalah kertas tebal yang berbentuk segi empat dan berisikan materia atau bahan ajar yang akan di sampaikan oleh guru kepada siswa yang di dalamnya terdapat informasi yang akan diterjemahkan oleh siswa yaitu berupa gambar, keterangan gambar, pertanyaan dan jawaban pertanyaan tergantung dari kreativitas guru dalam menuangkan materi pembelajaran kedalam kartu tersebut . Zainal Aqib (2002:99) menjelaskan pembelajaran melalui berbagai bentuk permainan dapat memberikan pengalaman menarik bagi siswa dalam mengenal dan memahami suatu konsep, menguatkan konsep yang telah dipahami atau memecahkan masalah sehingga dapat meningkatkan atau mengembangkan motivasi intrinsik dan memberikan kesempatan untuk melatih membuat keputusan dan mengembangkan pengendalian emosi bila mengalami kekalahan maupun kemenangan dan juga kartu Tematik dapat menimbulkan kegembiraan dan pengalaman yang menarik bagi siswa sehingga dapat mengurangi kejenuhan   bagi siswa .


D.   Hasil Belajar
Hasil belajar  adalah kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. Sudjana (1989:41-43) mengatakan bahwa ada beberapa faktor yan mempengaruhi kualitas pembelajaran yaitu :
a.       Kompetensi guru. guru sangat menentukan kulitas pembelajaran karena guru adalah sutradara dalam proses pembelajaran. Seorang guru harus pandai - pandai dalam merencanakan pengajaran termasuk memilih pendekatan maupun metode pengajaran.
b.      Karakteristik kelas, meliputi: besar kecilnya kelas, suasana belajar , fasilitas dan sumber belajar.
c.       Karakteristik sekolah, berkaitan dengan disiplin sekolah, perpustakaan letak geografis lingkungan sekolah estika  dalam artian sekolah memberikan perasaan nyaman dan kepuasan belajar, bersih, rapi dan teratur.
       Oemar Hamalik(2011:30) juga mengatakan bahwa hasil belajar menunjuk kepada prestasi belajar, dan prestasi belajar merupakan indikator dan derajat adanya perubahan tingkah laku siswa. sedangkan  Slameto (2003:54) mengemukakan bahwa faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah sebagai berikut :
Tercapainya suatu hasil belajar tidak lepas dari beberapa faktor yang mempengaruhi proses hasil belajar tersebut, baik faktor intenal maupun eksternal. Faktor internal adalah faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar dari individu yang sedang belajar, meliputi Jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. Faktor jasmaniah antara lain: faktor kesehatan dan cacat tubuh, perhatian, minat,bakat, motif, kematangan dan kesiapan. Sedangkan Faktor eksternal adalah faktor yang datangnya dari luar diri siswa sendiri, meliputi : faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat. Faktor sekolah diantaranya adalah kualitas pengajaran dan tinggi rendahnya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pembelajaran.
       Berdasarkan dari beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas pengajaran tersebut di atas bahwa guru mempunyai peranan yang sangat penting dalam pembelajaran karena proses belajar mengajar dan hasil belajar sebagian besar di tentukan oleh peranan dan kompetensi guru . Guru yang berkompeten akan bisa mengelola kelasnya sehingga mampu mengembangkan siswa dari berbagai ranah, baik itu ranah kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga hasil belajar siswa meningkat dan optimal.

E.       Pembelajaran Tematik
Model Pembelajaran Tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan Tematik ( Fogarty,1991). Pendekatan ini pengembangannya di mulai dengan menentukan tema tertentu. Setelah tema disepakati, maka di kembangkan menjadi subtema dengan memperlihatkan keterikatan dengan bidang studi lain . setelah itu di di kembangkan melalui berbagai aktivitas belajar yang mendukung. Tema merupakan pengikat setiap kegiatan pembelajaran baik dalam mata pelajaran tertentu maupun lintas mata pelajaran . Dengan demikian model ini merupakan model yang mempergunakan pendekatan tematik lintas bidang studi . Dalam pembahasannya tema ini di tinjau dari berbagai mata pelajaran. Sebagai contoh tema :Kegiatan sehari-hari “ dapat ditinjau dari berbagai mata pelajaran seperti , Matematika, Bahasa, IPS, Pkn dan IPA.
Model ini sangat tepat diterapkan disekolah dasar karena pada umumnya peserta didik masih melihat seala sesuatu sebagai suatu keutuhan (Holistik), perkembangannya tidak bisa dipisahkan dengan perkembangan mental, sosial,dan emosional terutama di kelas- kelas awal sekolah dasar.
Penetapan tema dilakukan dengan dua cara( Sa’ud,2006) Pertama, tema ditentukan terlebih dahulu yaitu dari lingkungan terdekat peserta didik, dimulai dari hal yang termudah menuju yang sulit, dari hal yang sederhana ke yang kompleks,dan dari hal yang konkrit menuju hal yang abstrak. Cara ini dilakukan untuk kelas-kelas awal SD/MI (kelas I dan II). Tema yang dikembangkan yaitu tema kegiatan sehari-hari. Setelah tema di tentukan kemudian dilakukan pemetaan kompetensi dasar dan indikator yang yang diperkirakan relevan dengan tema tersebut . Kedua, tema ditentukan setelah mempelajari kompetensi dasar dan indikator yang terdapat pada masing-masing mata pelajaran. Penetapan tema dapat dilihat dengan melihat kemungkinan materi pelajaran yang dianggap dapat mempersatukan beberapa kompetensi dasar pada beberapa mata pelajaran yang akan dipadukan.  

F.       Keunggulan Model Pembelajaran Tematik
Keunggulan model pembelajaran tematik antara lain, Faktor motivasi berkembang karena adanya  pemilihan tema yang didasarkan pada minat peserta didik . Mreka dapat dengan mudah melihat bagaimana kegiatan berbeda dengan ide yang berbeda dapat saling berhubungan, kemudahan untuk lintas semester dlam KTSP sangat mendukung untuk dapat dilaksanakan model pembelajaran ini ( Sa’ud, 2006)

G.      Kelemahan Model Pembelajaran Tematik
(Sa’ud, 2006) mengatakan bahwa Kelemahan model pembelajaran tematik ini antara lain karena kecendrungannya untuk mengambil tema adalah sangat dangkal sehingga kurang bermanfaat bagi peserta didik. Selain itu seringkali guru berfokus pada kegiatan sehingga materi atau konsep menjadi terabaikan. Perlu ada keseimbangan antara kegiatan dan pengembangan materi pelajaran. Lebih lanjut di ungkapkan  Sa’ud (2006), kegiatan model pembelajaran tematik dapat dilakukan dalam tiga cara , yaitu dengan mendesain : (1) perencanaan pembelajaran, (2) prosedur pelaksanaan pembelajaran,dan (3)penilaian pembelajaran yang tepat.
. Langkah-langkah dalam mengembangkan model perencanaan pembelajaran tematik pada tema “Kegiatan sehari - hari” yaitu : (1) Menetapkan beberapa mata pelajaran yang akan dipadukan, (2) Mempelajari kompetensi dasar dan indikator dari mata pelajaran yang akan dipadukan, (3) Memilih dan menetapkan tema/topik pemersatu, (4) Membuat bagan keterhubungan (untuk model tematik) kompetensi dasar dan tema/topik pemersatu, dan (5) Menyusun silabus pembelajaran terpadu.
Disain pelaksanaan pembelajaran tematik dapat dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), yang terdiri dari tiga kegiatan, yaitu (1) kegiatan pendahuluan, (2) kegiatan inti, dan (3) kegiatan akhir/tindak lanjut. Fungsi kegiatan pendahuluan terutama untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif yang memungkinkan peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.  
Kegiatan utama yang dilaksanakan dalam pendahuluan pembelajaran yaitu : (1) menciptakan kondisi-kondisi awal pembelajaran yang kondusif, (2) melaksanakan kegiatan apersepsi, dan  (3) penilaian awal (pre-test). Kegiatan inti merupakan kegiatan dalam rangka pelaksanaan pembelajaran terpadu yang menekankan pada proses pembentukan pengalaman belajar peserta didik (learning experiences). Pengalaman belajar bisa dalam bentuk : (1) kegiatan tatap muka, yang dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang dialkukan dengan mengembangkan bentuk-bentuk interaksi langsung antara guru dengan peserta didik, (2) kegiatan non-tatap muka yang dimaksudkan sebagai kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik dalam berinteraksi dengan sumber belajar lain yang bukan kegiatan interaksi guru-peserta didik.
Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam kegiatan akhir yaitu : (1) Kegiatan akhir dalam pembelajaran terpadu tidak hanya diartikan sebagai kegiatan untuk menutup pelajaran, tetapi juga sebagai kegiatan penilaian hasil belajar peserta didik dan kegiatan tindak lanjut, (2) Kegiatan tindak lanjut harus ditempuh berdasarkan pada proses dan hasil belajar peserta didik, (3) Waktu yang tersedia untuk kegiatan ini relatif singkat, oleh karena itu guru perlu mengatur dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin.
Secara umum kegiatan akhir dan tindak lanjut dalam pembelajaran terpadu diantaranya kegiatan : (1) melaksanakan dan mengkaji penilaian akhir, (2) melaksanakan tindak lanjut pembelajaran, (3) menjelaskan kembali bahan pelajaran yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi pelajaran tertentu, dan memberikan motivasi atau bimbingan belajar, (4) mengemukakan tentang topik yang akan dibahas pada waktu yang akan datang, dan (5) menutup kegiatan pembelajaran.

F. Langkah-langkah permainan Kartu Tematik
Langkah-langkah permainan kartu tematik dapat dideskripsikan sebagai berikut :
(1)   Permainan terdiri dari enam kelompok yang masin-masing kelompok terdiri dari 6 orang dan ada satu kelompok yang tujuh orang.
(2)   Kartu sebanyak 36 tersebut di kocok dan dia acak kemudian siswa di beri kartu tematik amsing-masing sebanyak enam kartu.
(3)   Siswa yang mendapatkan giliran pertama membacakan kartu master yang di milikinya diikuti  temannya yang lain memberi menyebutkan atas kartu sejenis yang di milikinya . Kemudian pertanyaan yang terdapat pada kartu selain master yang sesuai dengan judul pelajarannya di tanyakan pada teman yang memiliki kartu master sementara kartu lain di tutup agar bisa fokus pada pertanyaan . jika jawaban benar yang memiliki kartu master mendapatkan nilai 2 jika salah nilainya 0.setelah itu kartu pertanyaan di kumpulkan dan di hitung berapa jumlah jawaban yang benar,score perolehannya di tulis pada lembar score yang tersedia di masing-masing kelompok sesuai dengan urutan membuat atau gilirannya bagi yang mendapatkan kartu master.
(4)   setelah selesai permainan masing-masing kelompok memperesentasikan hasil salah satu pelajaran yang di tentukan untuk di tampilkan pada media papan lingkaran serba guna agar hasil pembelajaran untuk lebih mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran permasing-masing kelompok.
 Secara lebih detail tema dan kartu tematik yang digunakan dalam pembelajaran dapat dilihat pada lampiran.

H.  Kerangka Berfikir
Pemanfaatan metode pembelajaran yang cocok dan penerapannya yang sesuai sangat berpengaruh terhadap penguasaan materi oleh pesertra didik. Model pembelajaran yang tidak sesuai cenderung cenderung membuat prestasi belajar siswa menjadi rendah. Sesuai dengan data awal dari hasil yang diperoleh bahwa masih banyak siswa yang prestasi belajarnya belum mencapai target kriteria  ketuntasan belajar yang ditetapkan di sekolah, yaitu sebesar 70.
Mempertimbangkan begitu pentingnya peranan pembelajaran Tematik dalam membelajarkan siswa untuk memahami konsep secara komperhensip dan menyeluruh (holistik) dan ridak Sparsial (terpisah-pisah) bagi kesinambungan pembelajaran siswa di masa mendatang . Permainan KATIK (Kartu Tematik ) adalah salah satu solusi untuk membelajarkan siswa agar pembelajaran menjadi lebih bervariasi dan mengembirakan sehinga pembelajaran akan menjadi lebih bermakna.(meaningfull).
Dari kajian yang dilakukan oleh peneliti, di peroleh kesimpulan menyangkut penyebab masalah terletak dari model pembelajarannya belum mampu memotivasi siswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam mengikuti proses pembelajaran. Oleh karena itu  guru sebagai peneliti memilih untuk menerapkan penggunaan kartu Tematik dalam mengatasi masalah yang dimaksud.
Dengan upaya yang dilakukan dalam penjelasan di atas, diharapkan proses pembelajaran akan berjalan lebih aktif dan menyenangkan sehingga dengan demikian akan mendorong motivasi prestasi belajar siswa dalam mencapai kriteria ketuntasan belajar sesuai dengan yang diharapkan.

I.     Hipotesis Tindakan
Hipotesis penelitian ini termasuk jenis hipotesis tindakan . Hipotesis tindakan dapat di rumuskan berdasarkan pemikiran bahwa tindakan yang dilakikan akan mampu mengatasi permasalahan yang ada. Rencana Hipotesis yang disampaikan adalah: Jika Pengunaan Kartu Tematik ( KATIK ) dapat dilaksanakan secara maksimal maka prestasi belajar siswa pad pembelajaran tematik dengan tema kegiatan sehari-hari di kelas II SDN 001 Tanjungpinang Barat akan dapat ditingkatkan

 BAB III
METODELOGI PENELITIAN
A.  Waktu dan Tempat Penelitian

1.      Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret sampai dengan bulan Mei 2014. Sebagai gambaran dari pelaksanaan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Jadwal Penelitian
Tabel 3.1

No
1
Kegiatan
Maret
April
Mei
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5

Penyusunan Proposal dan pelaksanaan kegiatan awal















2
Perencanaan Tindakan I















3
Pelaksanaan tindakan I















4
Pengamatan/Pengumpulan data I















5
Refleksi I















6
Perencanaan Tindakan II















7
Pelaksanaan Tindakan II















8
Pengamatan/ pengumpulan data II















9
Refleksi II















 10
Penulisan Laporan/ penjilidan


















2.    Tempat Penelitian
       Penelitian Tindakan kelas ini dilaksanakan di SD Negeri 001Tanjungpinang Barat kelas II semester 2 tahun ajaran 2013/2014 .
B.  Metode Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, metode yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (classroom action research). Menurut Kemmis dan Mc. Taggart (dalam Rafi′uddin, 1996) penelitian tindakan dapat dipandang sebagai suatu siklus spiral dari penyusunan perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi yang selanjutnya mungkin diikuti dengan siklus spiral berikutnya. Penelitian dimulai dari fase refleksi awal untuk melakukan studi pendahuluan sebagai dasar dalam merumuskan masalah penelitian. Selanjutnya diikuti perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Tahapan pelaksanaan fase-fase penelitian tergambar dalam bagan berikut.
C.    
D.     
E.      
F.       
G.     
H.     
I.        
J.        
K.     
L.      
M.    
N.     
O.     
P.       

Gambar 3.2 Tahapan Penelitian Tindakan Kelas
C. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi penelitian
Populasi penelitian tindakan kelas ini adalah keseluruhan siswa kelas II yang berjumlah 37 orang siswa yang terdiri 14 siswa perempuan dan 23 siswa laki-laki SD Negeri 001 kecamatan Tanjungpinang Barat Tahun pelajaran 2013/2014. 35 orang peserta didik telah lancar membaca dan dua orang peserta didik (1 perempuan dan 1 laki-laki) masih membutuhkan bimbingan khusus dalam kegiatan pembelajaran khususnya membaca.  
2.      Sampel Penelitian
 sedangkan sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas II yakni 37 siswa dan guru yang mengajar di kelas yang sama .

D. Variabel Penelitian
      Adapun Variabel penelitian tindakan kelas ini adalah :
1.      Efektivitas dan Kreativitas siswa
2.      Hasil belajar siswa
3.      Penggunaan Kartu Tematik
 Penulis membatasi penelitian pada ketiga variable di atas agar penelitian lebih fokus dan tidak melebar.

E. Sumber Data Penelitian
Sumber data pada penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas II SD Negeri 001 Tanjungpinang Barat semester genap tahun pelajaran 2013/2014 serta  linkungan yang mendukung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan jenis data yang diperoleh adalah data kuantitatif dan kualitatif yang terdiri dari kondisi awal siswa, Hasil belajar siswa, tanggapan siswa . Data kondisi awal siswa di peroleh melalui hasil observasi dan dokumentasi hasil belajar siswa pada pembelajaran tematik dengan tema “kegiatan sehari-hari”, hasil belajar siswa di peroleh dengan memberikan tes tertulis pada siswa yang dilaksanakan pada akhir siklus, penilaian proses  afektif dan psikomotorik di ambil melalui observasi. Data tentang tanggapan siswa melalui lembar kuisioner.

F. Instrumen Penilaian
Instrumen penilaian pada penelitian tindakan kelas ini adalah menghitung data dengan langkah sebagai berikut :
1.      Merekapitulasi nilai ulangan harian sebelum dilakukan tindakan dan nilai tes akhir siklus I dan siklus II , menghitung rerata atau persentase hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan siklus I dan siklus II untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar
  Nilai rata-rata siswa dicari dengan menggunkan rumus sebagai berikut :
                                                                          N
Keterangan :
X         = Nilai rata-rata
∑x       = Jumlah nilai seluruh siswa
N         = Banyaknya siswa yang mengikuti tes

2.    Data tentang ketuntasan belajar siswa di hitung dengan menggunakan rumus deskriptif persentase sebagai berikut :
       %     =      n              × 100
                      N
  Keterangan :
%         = Persentase
n          = Jumlah skor yang diperoleh dari data
N         = Jumlah skor maksimal
  ( Ali, 1984:184)
3.    Data tentang hasil belajar (kognitif) siswa dihitung dengan mengunkan rumus sebagai berikut :
Text Box: (Slamento, 2001 :189)Nilai Akhir   =     Jumlah jawaban yang benar
                             Jumlah seluruh soal

4.    Data hasil Observasi untuk penilaian afektif dan psikomotorik siswa di hitung dengan menggunkan rumus sebagai berikut :
Text Box: (Diknas,2003:14)Nilai      = 

G. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
   1. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, yaitu mengumpulkan data melalui pengamatan langsung secara sistematis mengenai permasalahan yang akan diteliti, kemudian dibuat catatan, sesuai dengan hal tersebut. Jenis observasi yang digunakan adalah observasi langsung..
2.    Alat Pengumpulan Data
       Alat pengumpulan Data pada penelitian tindakan ini adalah berupa data kualitatif dan kuantitatif berupa lembar observasi dan daftar nilai dari butir soal yang diberikan kepada siswa untuk pengumpulan data awal sampai dengan data akhir pada siklus I dan siklus II.
H. Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah teknik secara kualitatif dan kuantitatif dimana data kualitatif diperoleh dari hasil observasi yang dilakukan terhadap kegiatan siswa pada penggunaan kartu tematik di dalam proses belajar mengajar  sedangkan data kuantitatif di peroleh dari hasil tes tertulis yang diberikan kepada siswa berupa  lembar kerja siswa.

               Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus penelitian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik presentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran
I. Prosedur Penelitian
1)      Siklus I
a.       Refleksi Awal
Identifikasi awal dan permasalahan yang berhubungan dengan aktivitas belajar siswa, kompetensi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran “Tematik” sebelumnya diperoleh permasalahan yang meliputi :  sebagian siswa mengalami kesulitan belajar, diantaranya hasil belajar “Tematik” yang rendah, kurang memahami konsep-konsep keterpaduan antar bidang studi yang dipelajari, dan sering tidak konsenstrasi dalam mengikuti pembelajaran di kelas.
Selain itu aktivitas siswa dalam pembelajaran cenderung pasif, hanya sebagian kecil saja siswa yang aktif dalam pembelajaran. Respon pasif ini ditandai dengan partisipasi dan respon siswa yang rendah dalam kegiatan belajar mengajar. Indikatornya adalah rendahnya minat siswa untuk bertanya tentang materi pembelajaran, rendahnya kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan materi pembelajaran, rendahnya kemauan siswa untuk melaksanakan tugas-tugas pembelajaran, dan sebagainya.
b.      Perencanaan
Perencanaan ini berdasarkan pada refleksi awal (observasi pendahuluan). Pada kegiatan ini dilakukan kegiatan sebagai berikut.
1.      Melakukan persiapan tindakan dan waktu tindakan untuk siklus 1.
2.      Menyusun rencana pembelajaran yang digunakan pada siklus 1, yaitu  merancang pembelajaran dengan penggunaan kartu ”TEMATIK” sebagai media pembelajaran dalam memahami pembelajaran terpadu yang mengaitkan beberapa mata pelajaran yang berkaitan dengan tema kegiatan sehari - hari.
3.      Menyusun observasi pelaksanaan yang meliputi aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran.
4.      Menyusun evaluasi pembelajaran untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah pelaksanaan tindakan.
5.      Menyusun rencana pengolahan data, baik kualitatif maupun kuantitatif.
c.       Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan setelah ditemukan berbagai permasalahan di atas, dan melaksanakan segala hal yang telah direncanakan, yaitu merancang pembelajaran dengan penggunaan kartu ”TEMATIK” sebagai media pembelajaran dalam memahami pembelajaran terpadu yang berkaitan dengan tema kegiatan sehari - hari .
d.      Observasi
Dalam tahap ini, peneliti mengobservasi hasil dari pelaksanaan dari siklus I, yang meliputi:
1.      Mengobservasi aktivitas belajar siswa
2.      Mengobservasi hasil belajar siswa
e.       Refleksi
Hasil dari pelaksanaan tersebut dievaluasi kembali untuk memperbaiki dan melaksanakan program berikutnya ataupun memperbaiki segala sesuatu yang masih belum tercapai.  Refleksi juga diadakan pembahasan dan diskusi bersama guru lain yang juga mengobservasi aktivitas pembelajaran.
Persoalan pokok dalam refleksi ini adalah :
1.      Peranan dan hasil dari pelaksanaan tindakan dalam siklus I
2.      Kesesuaian antara tindakan yang dilaksanakan dengan hasil yang diharapkan.
3.      Relavansi peningkatan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran MATEMATIKA,BAHASA,IPS, PKN,SAINS/IPA.
2)      Siklus II
a.       Refleksi Awal
Refleksi awal pada siklus II didasarkan pada identifikasi awal dan hasil dari pelaksanaan siklus I. Siklus II dilakukan sebagai bagian dari kelanjutan dan penyempurnaan dalam siklus I.
b.      Perencanaan
Pada kegiatan ini dilakukan kegiatan sebagai berikut.
1.      Melakukan persiapan tindakan dan waktu tindakan untuk siklus II.
2.      Menyusun rencana pembelajaran yang digunakan pada siklus II.
3.      Menyusun observasi pelaksanaan yang meliputi aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran.
4.      Menyusun evaluasi pembelajaran untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah pelaksanaan tindakan.
5.      Menyusun rencana pengolahan data, baik kualitatif maupun kuantitatif.
c.       Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan ini dilaksanakan setelah ditemukan berbagai permasalahan di atas, dan melaksanakan segala hal yang telah direncanakan. Pelaksanaan tindakan meliputi :
1.      Langkah 2
Mengobservasi proses pembelajaran yang dilaksanakan terutama dalam aktivitas belajar siswa.
2.      Langkah 3
-          Mengadakan evaluasi materi dan hasil belajar
      d.   Observasi
Dalam tahap ini, peneliti mengobservasi hasil dari pelaksanaan dari siklus II.




      e.   Refleksi
Hasil dari pelaksanaan tersebut dievaluasi kembali untuk memperbaiki dan melaksanakan program berikutnya ataupun memperbaiki segala sesuatu yang masih belum tercapai.  Refleksi juga diadakan pembahasan dan diskusi bersama guru lain yang juga mengobservasi aktivitas dan hasil belajar.
3.      Nilai dan kriteria penilaian adalah sebagai berikut :
Tabel 3.3
No
Kriteria
Nilai
1
Angka yang didapatkan lebih besar dari kelompok lainnya adalah
Menang Angka
Kalah Angka
2
0
2
Dapat menjawab pertanyaan dalam kartu poinnya
Benar
Salah
2
0
3
Tidak Dapat menjawab pertanyaan dalam kartu poinnya adalah
salah
Salah
0
0
Tabel 3.4
Deskripsi Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran Siklus 2
No
Deskripsi
Kategori
Aktif
Tidak Aktif
1
Respon siswa dalam mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan
33
(89,18%)
4
(10,81%)
2
Respon siswa dalam berargumentasi dan mengemukakan pendapat
30
(8108%)
7
(18,9 %)
 3
Minat dan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran
37
(100%)
0
(0%)
4
Keaktifan siswa dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran
37
(100%)
0
(0%)
5
Membantu kelancaran interaksi proses belajar mengajar
34
(91,89%)
3
(8,11%)